Home » » Keluarga Pelangi

Keluarga Pelangi

Hal yang paling berharga adalah keluarga

Permata yang paling indah adalah keluarga.


Aku dilahirkan di keluarga yang sederhana, Di rumah aku dibesarkan Dibelai mesra lentik jari ibu (lagu iwan fals). kesederhanaan itu sudah lama melekat dalam keluarga kecil itu. Ayah bertani dan ibu hanyalah ibu rumah tangga biasa, tidak ada yang dibanggakan kecuali tekad Ayah, Tekad ibu yang terus memelihara keluarga agar menjadi keluarga pecinta ilmu dan pecinta amal.

Aku berkata demikian Bukan Tanpa Alasan. Dulu Ayah adalah seorang guru ngaji dikampung, siapa yang tidak kenal, “Amaq Sabri” yah begitulah kata orang. Bukan bermaksud sombong, anak muridnya sekarang banyak yang sudah menjadi orang sukses. Alhamdulillah, di dalam hidup ayah pernah menggoreskan nilai-nilai yang bisa dicontoh oleh anak-anaknya.

Ibu adalah perempuan yang luar biasa, selain melaksanakan pekerjaan rumah tangga sebagai istri dan ibu, Beliau juga tak jarang untuk turut serta membantu pekerjaan ayah disawah. Aku merasa bersyukur dilahirkan dari rahimnya. Selain itu, ibu juga sering mengikuti pengajian di masjid atau di berbagai pondok pesantren.

Walaupun, Dalam darah keluarga kami beraliran Nahdatul Ulama (NU), Ayah dan ibu selalu menanamkan nilai-nilai toleransi, tentunya bukan sekedar perkataan beliau saja. Sewaktu aku kecil, Dikampungku terkenal dengan keberagamannya, sebut saja Muhammadiyah, Nahdatul Wathon (NW), Dan Shalafi, semuanya Ada disanan. Pada masa itu sering terjadi gesek-gesekan antar paham. Namun Sepenglihatan ku saat itu, ayah maupun ibu tidak pernah terlibat didalam konflik tersebut.

Dalam Menyikapi setiap permasalahan, ayah dan ibu selalu mencari jalan keluar yang terbaik. Jujur saja, Sejak aku lahir sampai saat ini aku belum pernah melihat Ayah dan Ibu Bertengkar. Meskipun terdengar dari cerita tetangga dulu sebelum aku lahir, ayah dan ibu pernah bertengkar hebat, dikarenakan ayah ingin menikah lagi. Tapi itu tidak lama, pikirku itu sekedar goncangan dalam berumah tangga. Karena didalam sejarah pernikahan ayah dan ibuku tidak pernah mengalami perceraian. Sebagai seorang anak tentunya merasa bahagia.

Ayah dan Ibuku Paham betul bagaimana menjadikan Rumah sebagai surga, “Baiti Jannati” ungkapan orang bijak arab. Beliau ciptakan ketentraman dan ketenangan untuk kami anak-Anaknya. Ayah melakukan perannya sebagai pemimpin dalam keluarga, dan begitupula ibu menjadi Sebaik-sebaik perhiasan Dunia alias Istri yang sholehah untuk ayah, dan menjadi seorang Ibu yang memang Layak dikatakan bahwa Surga ada ditelapak Kakinya.

Dalam Hal Mendidik Kami Anak-Anaknya, Saat kami kaku karena ketegasan sang ayah, Ibu yang bertugas melembutkannya. Begitulah, Ayah memang keras pikiranku saat aku kecil, Namun sekeras-kerasnya didikan ayah itu hanya untuk kebaikan kami anaknya-anaknya, saat ini aku merasakan Hasilnya. Ku Akui ayah begitu sangat Mengerti bagaimana cara mendidik anak-anaknya. Ayah Tahu kelak di Akhirat Akan diminta Pertanggungjawabannya, Karena Segala kesalahan dan Masa Depan Anak adalah Tanggung Jawab Orang Tua, Terutama Ayah.

Bagiku saat itu, Rumah memang menjadi sekolah pertama, Selain sebagai orang Tua, Ayah juga menjadi seorang guru, mengajarkanku membaca Al-Quran, Mendidikku menjadi Anak Sholeh, dan menesehatiku untuk selalu menghargai sesama.

Ketentraman Selalu menjadi Dinding Rumah Kami. Sehingga cinta dan kasih sayang selalu terjalin diantara kami anggota keluarga. Mungkin terlalu berlebihan jika kukatakan keluargaku adalah keluarga yang sakinah. Namun, Saat ini dan Dikemudian Hari Aku selalu bersyukur karena Di Takdirkan hidup dilingkungan keluarga demikian yang pernah ku lalui.



















Silahkan di share ya?


0 komentar:

Kunjungi Untuk Subscribe Yuk..